Weee...

Ini adalah gambar dan cerita pendek yang saya buat pada tahun 2008 untuk Widya, salahsatu teman dekat saya. Postingan asli bisa dilihat di sini.

"Weee..." digambar secara digital memakai aplikasi Colors! pada NintendoDS

Pada suatu masa, para boneka beruang merasa tidak ingin tersenyum, apalagi tertawa. Pada masa itu anak-anak memilih bermain video game, tidak ada yang benar-benar memperhatikan apakah boneka beruang mereka tersenyum atau berwajah nelangsa. Boneka mereka hanya dijadikan ganjal pantat atau sandaran, agar punggung mereka tidak cepat pegal karena terlalu lama bermain video game.

Teddy, si peri beruang, sangat sedih melihat hal itu.

"Mengapa kalian tidak tersenyum dengan gembira?" tanyanya pada para boneka beruang.

"Kami sudah lupa bagaimana caranya." jawab mereka.

Teddy memandang wajah-wajah sengsara para boneka beruang.

"Begini lho caranya..." Teddy mencoba memberi contoh.

"Peri Teddy..."

"Ya?"

"Itu mencucu." salahsatu boneka menegurnya.

"Oh, maaf. Maksudku seperti ini..." Teddy menekuk-nekuk bibirnya.

"Peri Teddy..."

"Salah lagi ya?" Teddy menutupi mulutnya dengan kedua tangan.

"Iya."

Peri Teddy putus asa. Ternyata dirinya pun tidak tahu bagaimana membuat wajah gembira.
Lalu ia teringat pada Lalang, gadis yang selalu tersenyum gembira.

"Ah, aku akan menculik dia!" Teddy terbang ke rumah Lalang.

Sesampainya disana Lalang menyambutnya dengan ceria.

"Halo beruang kuning yang bisa terbang!"

"Aku peri, namaku Teddy!"

"Oh! Aku punya boneka juga, namanya Yellow!"

"Aku Teddy, aku peri!"

"Baiklah peri Teddy, ada yang bisa kubantu? Sini, duduk dulu di dekatku!" Lalang menepuk-nepuk sofa di sampingnya.

Teddy memandangnya, tidak mau mendekat.

"Mengapa kamu melengkungkan bibirmu ke bawah seperti itu terus?" tanya Teddy curiga.

"Oh, ini? Ini tersenyuuum..." Lalang menghampiri Teddy. "Coba sini, kau pun bisa!" Lalang menarik kedua sudut mulut Teddy, menaikkannya sedikit sehingga terbentuk senyum di wajah peri beruang itu.

"Hei apa-apaa... wow... aku merasa lebih baik!"

"Tentu saja!" Lalang tersenyum puas.

"Ikutlah bersamaku, kamu harus mengajari para boneka beruang cara tersenyum!"

"Bukankah kamu sekarang sudah tahu bagaimana caranya?"

"Aku kurang yakin. --Hei, Kuajak kau terbang gratis!"

"Baiklah!" Lalang langsung setuju.

Maka Lalang naik ke punggung Teddy dan mereka terbang ke seluruh dunia, mengajari para beruang sedih, bagaimana caranya tersenyum gembira!

TAMAT


-------------------------------

A tribute to my always-smiling friend, Widya. You ALWAYS make me smile! :)

Kali Ini Bukan Fiksi

melainkan beberapa video tentang menulis yang menginspirasi -sebelum saya mulai menulis lagi :)









Ikut NaNoWriMo 2009!


Saya ikut NaNoWrimo lagi tahun ini. Semoga jadi juara hahaha!

STOP PRESS!



"Gak semua yang loe denger itu bener..."

Dan gak semua yang loe baca itu bener. He he he.
Tapi di sini semuanya FIKSI! Kesamaan nama, tempat, kejadian dalam cerita tidaklah disengaja.

Daftar judul cerpen bisa dilihat di sebelah kanan. Silakan baca. Kalau mau boleh kasih komen.
Akhir kata, enjoy-kanlah ;)


Updates:
Saya menggambar, lalu bercerita tentang gambar itu...
Memperkenalkan, Cerita+Gambar : Nona Cingkir . Silakan ditengok :)

Nona Cingkir



Pada jaman entahlah, hiduplah seorang gadis bernama Nona di sebuah desa kecil di kaki meja. Seperti saudara-saudara perempuannya yang lain, bahkan ibu dan bibi-bibinya semua, Nona berwajah bulat dengan kulit putih licin seperti porselen.

Tunggu, wajahnya memang dari porselen.

Dibandingkan dengan tubuhnya yang sedikit kurus, kepalanya tampak besar dan bulat seperti sebuah cangkir.

Tunggu, kepalanya memang berbentuk cangkir -dengan satu pegangan yang bentuknya seperti telinga, dan ada cekungan di atas kepalanya yang bisa menampung sekitar 120ml air.

Seluruh anggota keluarganya juga seperti itu (tapi kepala ibunya bisa menampung 200ml air, dan ada tutupnya sehingga tidak mudah tumpah).
Karena tidak dilengkapi tutup, Nona harus berjalan dengan hati-hati setiap saat.

"Nanti juga kamu akan menemukan tutupmu!" hibur Ibunya setiap kali Nona cemberut dan malas kemana-mana karena takut isi di dalam kepalanya tercecer sia-sia. "Sekarang pergilah bermain dengan sepupu-sepupumu! Masak kamu tidak pernah ikut berkumpul dengan mereka sih." Ibu mendorongnya perlahan.

Nona melangkah masuk ke kamarnya dan meraih sebuah buku yang terlihat pertama kali olehnya. Ia suka sekali membaca buku, semua jenis ia baca, termasuk buku daftar belanja milik Ibunya. Setelah menyelipkan buku di sela-sela roknya yang lebar dan tebal, ia berjalan keluar rumah dengan langkah perlahan.

"Selamat bersenang-senang!" seru Ibunya dengan wajah ceria, lega karena Nona akhirnya mau keluar rumah. Nona hanya memiringkan kepalanya sedikit, takut tumpah, dan terus berjalan.
Nona berjalan terus hingga sampai di pinggir desa, tempat sepupu-sepupunya yang berisik bermain bersama. Mereka bahkan tidak peduli bila isi dikepala mereka tumpah kemana-mana hingga tersisa beberapa mili.

Gadis-gadis berkepala cangkir melambai-lambaikan tangan dengan girang melihat kedatangan Nona. Tapi Nona terus berjalan, melewati mereka yang kebingungan memanggil-manggil namanya, Nona berjalan sampai keluar desa.

Nona terus berjalan menaiki bukit, sesekali memegangi kepalanya agar tidak tumpah.

Nona menghentikan langkahnya ketika ia mendapati sebuah benda bundar pipih dan licin. Dilihatnya sekeliling. Sepi. Angin bertiup semilir dan -amboi indahnya pemandangan di tempat itu!
Nona mengalihkan pandangannya pada benda berwarna putih serupa dirinya itu. Bahannya sama dengan wajahku..-ia meraba benda itu, kemudian membandingkan dengan wajahnya. Perlahan Nona melangkahkan kakinya ke atas benda itu, lalu duduk dengan hati-hati. Rasanya nyaman sekali. Ia mengeluarkan buku dari balik roknya yang kini melembung dan tampak seperti labu raksasa, dan mulai membaca.

"Hei, nona, apa isinya?" tiba-tiba muncul sebuah suara. Nona terperanjat. Seekor tikus dengan sebuah botol kecil sedang menatapnya, menanti jawaban.

"Eh, i-ini, tidak tahu, baru halaman pertama. Kata pengantar." Nona membalik bukunya, mencari judul di bagian sampul, tetapi tidak ada tulisan apa-apa disitu.

"Bukaaan. Kepalamu, apa isinya? Boleh dong, minta beberapa tetes. Semoga teh, nanti sore ada arisan di rumahku."

"Heh?" Nona bingung, ia pura-pura membaca bukunya.

"Hei, nona, pelit banget sih!" si tikus mendecak kesal.

Nona mengangkat wajahnya, memelototi si tikus, "bagaimana kau tahu namaku?"

"Memang siapa namamu?"

"Nona!"

"Oh. Asal tebak saja." si tikus melengos, malas meluruskan kesalahpahaman itu. "Ayo, bagi minumnya dong!"
Tapi Nona tidak menanggapi dan kembali sibuk dengan bukunya. Ternyata buku memasak.

"Ya ampun wanginyaaa!" sebuah suara lain, kali ini dari sisi berlawanan dengan tempat si tikus berdiri.

Nona menoleh kesal ke asal suara. Seekor binatang yang tidak jelas bentuknya melompat-lompat timbul-hilang-timbul-hilang dari sebuah lubang. Lompatan terakhir cukup tinggi sehingga binatang itu mendarat juga di atas rumput. Seekor kelinci.

"Wangi kopi. Boleh dong dibagi!" Si kelinci tersenyum merayu. Nona tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi keduanya sudah mengganggu acara membacanya.

"Pergi kalian!" hardiknya. Si tikus mendecit kaget. Si kelinci mundur beberapa langkah ke belakang, dan hampir masuk lagi ke dalam lubang.

"Yang satu ini pelit, ya!" seru si tikus pada kelinci.

"Ember!"

"Tapi mukanya mirip sekali sama yang dulu itu..."

"Nah cetakannya sama, kaleee!" Mereka asyik ngobrol sendiri di hadapan Nona.

"Ngomong-ngomong," si kelinci mendehem dibuat-buat dan kembali menghampiri Nona, "kamu duduk di atas lepekku lho!"

"Lepek apa?" tanya Nona dengan ketus.

"Itu, benda yang sedang kau duduki yang bahannya sama dengan wajahmu. Itu lepek -tatakan. Itu pu-nya-ku!" si kelinci mengeja kata terakhir.

"Aku bahkan punya jalinan sedotan plastik yang bisa kau pakai untuk meminum isi kepalamu sendiri -tuh, kusimpan di dalam lubangku. Tetapi tentu saja tidak gratis!"

Lalu si kelinci mulai menjelaskan tentang lepek yang diduduki Nona, dan apa fungsinya. Ia mengambil jalinan sedotan yang ia sebutkan, dan menjelaskan juga apa fungsinya.

"Mungkin kamu tidak tahu karena kamu masih terlalu muda, sebenarnya kamu bisa meminum isi di kepalamu. Isinya bisa bermacam-macam, tapi kalau boleh kutebak hari ini kau membawa kopi. Aku hafal wanginya."

"Ah, sial, bukan teh ya? Tapi ngga papa deh, daripada air putih..." si tikus kembali bergabung setelah sebelumnya hanya duduk di agak jauh dari mereka, membiarkan si kelinci yang menjelaskan.

"Kamu dari keluarga Cingkir kan?" tanya si kelinci.

"Bagaimana kau tahu?" kali ini Nona mulai tertarik dengan dua makhluk di hadapannya dan hal-hal baru yang mereka ceritakan.

"Anggap saja aku kenal nenekmu." si kelinci memegang bahu si tikus dan mengisyaratkan agar tidak banyak bergerak dengan tepukan di lengannya. Dalam hitungan ketiga ia sudah naik diatas bahu si tikus sambil memegang salahsatu ujung jalinan sedotan.

"Permisi, ya," ia memasukkan ujung sedotan itu ke dalam cekungan di kepala Nona, "nah, coba kau hisap perlahan!" seru si kelinci sambil menunjuk pada ujung sedotan yang satunya, yang terkulai di dekat Nona.

"Bagaimana, enak kan?" tanya si kelinci.

Nona memutar kedua bola matanya. Ia tidak tahu bahwa isi kepalanya seenak ini. Iya tersenyum-senyum sendiri.

"Sisakan sedikit untukku!" seru si tikus. "Hei, kamu tidak minta bagianmu?" tanyanya ketika melihat si kelinci kembali ke lubangnya.

"Aku sedang diet, mencium wanginya saja sudah cukup. Besok datang lagi, ya, Nona!"

Nona mengangguk, tapi konsentrasinya sudah kembali pada buku di pangkuannya.

"Hei, minta dong!" protes si tikus lagi.Nona tidak menghiraukannya, ia hanya mengangguk-angguk sambil terus membaca, membuat isi kepalanya terlempar beberapa tetes.

Setiap kali si tikus berkata sesuatu, ia tidak benar-benar mendengarkan, hanya mengangguk-angguk saja mengiyakan. Maka si tikus terus berkata-kata -agar Nona terus mengangguk-angguk, sambil berlarian kesana-kemari, berusaha menangkap tetesan kopi yang jatuh dari kepala Nona.

Setelah seluruh buku resepnya habis terbaca, dan yang tersedot olehnya tinggal ampas kopi, Nona pamit pulang pada si kelinci. Ia menoleh mencari tikus, tapi si tikus sudah pulang duluan setelah berhasil memasukkan beberapa tetes kopi ke dalam botol kecilnya, teman-temannya arisannya sudah menunggu di rumah.

Nona berjanji kembali esok hari, karena si kelinci bilang akan membantunya menemukan tutup untuk kepalanya. Setengah berlari ia kembali ke desanya, tidak takut isi kepalanya tumpah karena memang sudah tandas diminum sendiri.


-----------------------------

proyek spontan gambar+cerita saya, hahaha...
keterangan dan cerita lebih singkat bisa dibaca di sini.

KUCING DAN BURUNG KENARI

Aku bosan hidup… Hhh…

Aku lapar…Hhh…

Kau selalu lapar bila berada dekat denganku! Apa tidak punya kalimat lain untuk diucapkan?

Setidaknya aku masih ingin hidup.

Oh, begitu? Pikirmu kalau memakanku kamu bisa kenyang dan melanjutkan hidup? Puas sesaat iya, sebelum kemudian kamu mati tercekik karena paruhku tersangkut di dalam kerongkonganmu!

Aku tidak sebodoh itu untuk menelan kepalamu!

Kamu khan sudah lama mengincarku, pastinya gemas dan tidak berpikir panjang bila akhirnya bisa menikmatiku. Aku berani bertaruh kamu tidak akan rela menyisakan apapun.

Ya. Ha ha ha ha. Bahkan bulu-bulumu sekalipun!

Tuh kan. Sudahlah, ambil saja ikan asin di meja sana. Perut kenyang hati senang dan bisa tetap hidup, habis perkara.

Pembicaraan kita belum berakhir, burung aneh! Kita lanjutkan setelah aku mengisi perutku!

(mengendap naik ke atas meja makan)

MAGIE

Kami menjulukinya nenek sihir. Kuku tangan dan kakinya itu lho, selalu dilapisi kuteks warna hitam! Baju-bajunya jangan ditanya, dominan warna gelap. Harusnya itu semua memang memberi kesan gothic atau funky, tapi nyatanya ia terlihat seperti tukang sihir atau paranormal. Anaknya sebenarnya baik, sangat pendiam tapi bukan tipe yang menyebalkan. Namanya Margareth, biasa dipanggil Magie, tapi baik namanya Margareth maupun Magie jarang terdengar diucapkan orang. Bahkan para dosen pun sepertinya enggan memilihnya ketika mengajukan pertanyaan dan harus menunjuk salah seorang diantara kami untuk menjawabnya. Paling hanya waktu absen saja namanya disebut.

Entahlah, sesuatu tentang Magie mengandung nuansa horor, itu menurut sebagian besar anak-anak Arsitek yang seangkatan. Tidak termasuk aku, karena aku tidak ambil pusing mengurusi seorang cewek nyentrik seperti Magie, setidaknya sebelum kemudian aku mendengar kabar menghebohkan bahwa Nino naksir padanya!

Oke, aku bohong. Aku tidak mendengar kabar itu dari siapa-siapa karena sebenarnya akulah yang pertama menyebarkan cerita itu. Sebelum kemudian menghebohkan para penggosip di kampus kami (yang berarti hampir seisi kampus), aku hanya menyatakannya pada teman-teman dekatku saja. Siapa sangka (oke, aku bohong lagi, aku sudah menyangka kok) kalau teman-teman dekatku itu bermulut ember dan haus akan sensasi semacam itu.

Lepas dari itu semua, siapa sih yang tidak histeris ketika menyadari bahwa cowoknya terang-terangan melirik cewek lain? Nino itu milikku! Yah, hampir lah, karena kami sedang dalam taraf pedekate. Maksudku, sebagai cewek kedua paling populer di kampus, semua orang juga tahu bahwa Nino pastinya mendekatiku, Lisa, setelah putus dari Nadia, primadona kampus kami! Memang sudah begitu aturannya. Jadi wajar dong kalau aku nggak terima ketika mendapati dengan mata kepalaku sendiri akhir-akhir ini si Nino kerap –bukan lagi mencuri-curi pandang tapi terang-terangan memandangi that girl in black!

“Apanya sih yang dilihat Nino dari Magie?!” Virni mencomot siomay terakhir yang ada di meja kantin. Mata kami mengikuti langkah kaki Magie yang berjalan melintas beberapa meter di depan kami, berjalan tertunduk seperti biasa, dengan kostum serba hitamnya.

“Jangan-jangan Nino dipelet ya?” entah dari mana muncul ide seperti itu dibenakku, tapi herannya Virni dan Dea yang sedang bersamaku kompak mengiyakan.

“Mungkin banget!” Dea mengangguk-angguk penuh semangat. Matanya tak lepas dari sosok Magie yang kini sedang berdiri dekat papan pengumuman.

Tiba-tiba cewek itu menoleh ke arah kami, membuat kami belingsatan dan dengan bodohnya cepat-cepat membuang muka ke arah lain dengan gerakan sangat tidak wajar –kentara banget kalau tadinya ngelihatin dia. Ketika dengan perlahan aku menatapnya kembali, Magie sedang menatap balik padaku sebelum kemudian menoleh kembali ke papan pengumuman dengan cepat, membuat rambut panjangnya yang hitam keunguan itu terlempar menerpa wajahnya.

Aku terkesiap. Bukan karena rambut panjang keunguannya, tapi karena sejurus kemudian aku melihat Nino berjalan menghampiri cewek itu. Nino berdiri tepat di sebelah kanannya, sama-sama menatap ke papan pengumuman. Ada apa sih di papan pengumuman hari ini? Perasaan tidak ada yang spesial untuk dilihati sampai segitunya deh! Kesalku mulai muncul.

“Memangnya ada pengumuman penting apa sih hari ini?” aku menoleh penuh emosi kepada Virni dan Dea bergantian. Mereka mengangkat bahu hampir berbarengan.

“Lis, mau kemana?” panggil Virni begitu aku melesat ke arah papan pengumuman karena jawaban Virni dan Dea yang tidak memuaskan.

“Ya mau lihat pengumuman lah!” ujarku sambil lalu.

Magie dan Nino refleks menoleh ketika merasakan kehadiranku di belakang mereka. Pasti karena aroma segar parfum yang kupakai.

“Ada pengumuman apa?” aku menyeringai dengan kikuk dipandangi mereka berdua seperti itu.

Magie –seperti sudah kuduga- diam saja, tidak menjawab.

“Tugas dari Pak Arie. Besok dikumpulin.” Nino menunjuk sebuah kertas berwarna kecoklatan yang tertempel tepat di tengah papan pengumuman.

What?!” seruku terkejut. Tugas dari Pak Arie selalu jadi mimpi buruk bagi kami dan parahnya dosen satu itu kerap mengumumkannya sangat mendadak, seperti kali ini. Aku berjinjit dan melompat-lompat kecil, berusaha melihat sendiri kertas pengumuman dari balik bahu dua sosok jangkung di hadapanku. Tinggi Magie hampir menyamai Nino –yang tentu saja jauh melampauiku, membuatku merasa seperti sebuah tong sampah diantara dua tiang listrik.

“Cuma ngelanjutin tugas yang minggu lalu kok…”

Aku menengadah dengan sedikit kaget ke arah Magie. Yang barusan itu adalah suaranya yang berat dan datar. Mata kami saling bertemu. Benar-benar datar cewek yang satu ini. Setelah memasukkan agenda (hitamnya) ke dalam tasnya (yang berwarna hitam juga tentunya) Magie pergi. Dan aku bisa melihat dari sudut mataku sedari tadi Nino tak lepas memandanginya.

“H-hai, Lisa!” sapanya setelah aku sengaja berdehem agak keras. Huuu, dimatamu hanya ada Magie, ya?! Menyebalkan!

*

Keep your friends close but your enemies closer.

Sebenarnya tidak ada masalah antara aku dan Magie, tapi sejak aku tahu Nino memperhatikan dan menaruh hati padanya, cewek itu otomatis masuk dalam daftar para sainganku. Terima kasih pada Pak Arie yang memberi tugas kelompok dan secara kebetulan menempatkanku satu tim dengan Magie, aku bisa ‘merangkul’ musuhku itu tanpa perlu susah payah memikirkan alasan yang terkesan dibuat-buat untuk memuluskan niatku.

Tugas kali ini adalah tugas akhir semester –tugas besar, secara tidak langsung nyawa kami dipertaruhkan disini. Jadi, demi suksesnya tugas ini kami memang harus banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Karenanya hanya dalam hitungan minggu aku dan Magie sudah seperti sobat karib saja. Dimana ada Lisa disitu ada Magie. Bahkan Virni dan Dea tidak pernah sesering ini bersamaku.

“Bo’, lo pake kuteks item?” suara Dea melengking memenuhi kelas. Aku melirik sekilas pada kuku tanganku. Ah iya, aku lupa menghapus kuteks hitam yang kemarin iseng kucoba ketika berada di rumah Magie. Dia punya berbotol-botol kuteks hitam –ada yang dengan gliter, ada yang warnanya bisa bernuansa lain bila tertimpa cahaya, pokoknya macam-macam deh.

“Yup. Kenapa? Keren khan?” celetukku asal.

“Keren? Biasanya sih gitu… But not this time. It’s so Magie!” Matanya menatap hina pada jari-jari tanganku. Tak dipedulikannya Magie yang sedang duduk di sebelahku dan pastinya mendengar semua perkataannya dengan jelas. Aku bahkan tidak berani menoleh pada Magie untuk melihat reaksinya.

Dea sudah kelewatan. Tapi bukan dia saja yang terang-terangan memprotes kedekatanku dengan Magie akhir-akhir ini. Alasan ‘demi tugas’ dari Pak Arie tampaknya tidak cukup kuat membendung keheranan anak-anak akan keakraban kami. Dan sejak kejadian di kelas dengan Dea itu, hubunganku dengan kedua teman dekatku yang ‘asli’ –Virni dan Dea, perlahan mulai merenggang hingga akhirnya bisa dikatakan kami bertiga hanya bertemu di kelas saja.

Aku bukannya sudah melupakan misiku semula. Memang, setelah bergaul lebih dekat dengan Magie, aku mendapati dirinya ternyata tidak seaneh anggapan orang-orang. Lumayan asyik malah! Tapi bagaimanapun Nino tidak boleh jadian dengan Magie karena cowok itu adalah jatahku. Jadi, disela-sela obrolan kami, kuselipkan cerita-cerita jelek tentang Nino hasil karanganku sendiri supaya Magie tidak tertarik padanya.

Entah usahaku itu berhasil atau memang Magie dari awal tidak tertarik pada Nino, yang pasti cewek itu begitu dingin dan acuh menanggapi Nino. Tapi ternyata aku belum bisa bernafas lega karena muncul masalah baru; Nino kelihatan makin menghindariku seiring kedekatanku dengan Magie dan setiap kali kami berjumpa, ia menatapku dengan tatapan aneh yang tidak kumengerti… Apakah ia mencium rencanaku memanas-manasi Magie? Kalau iya aku nggak heran dia menatapku sedemikian rupa!

Segala pertanyaanku itu akhirnya terjawab di suatu sore, ketika aku berpapasan dengan Nino di pelataran parkir kampus kami.

Aku menatap Nino dengan tatapan tak percaya dan sangat tersinggung. Cowok yang kuharapkan menjadi kekasihku itu baru saja menuduhku lesbi. Dia bilang dia tidak menyangka aku menyukai sesama jenis, padahal awalnya ia menaruh hati padaku! Dia bilang aku dan Magie sama-sama menjijikkan baginya…

Tentu saja aku tidak terima. Kami beradu mulut, kemudian aku mendorongnya dengan kesal dan Nino membalas. Kami saling mendorong beberapa kali sebelum kemudian diriku jatuh terjengkang oleh dorongan Nino. Harus kuakui sangatlah tidak gentle cara dia memperlakukan seorang cewek!

Kejadian selanjutnya berlangsung sangat cepat. Tiba-tiba sebuah tangan dengan kuku berkuteks hitam terulur membantuku berdiri. Tidak melihat wajahnya pun aku tahu bahwa itu tangan Magie. Ketika kemudian aku mengangkat wajah, aku melihat Nino tersungkur sambil memegangi perutnya yang bersimbah darah. Aku menoleh menatap Magie dengan panik.

“Aku sudah bilang sama dia jangan ganggu kamu, Lis! Itulah ganjarannya kalau berani nyakitin orang yang aku cintai. Tapi kamu nggak apa-apa khan, sayang?” tanya Magie sambil mengelus pipiku dengan lembut. Suara erangan Nino meneror kupingku.

“T-tapi, Nino bukannya suka sama kamu?!” aku balik bertanya dengan gemetar. Berada di pelukan Magie yang kokoh terasa begitu mengerikan, apalagi setelah mendengarnya mengucap kata sayang seperti itu.

“Nino? Suka sama aku?” Magie menengadah, tertawa.

“Aku seringkali mendapati dia memandangimu!” seruku lebih lanjut.

“Begitu ya?” Magie terkekeh. “Ya-ya.., pasti ia sering memandangku…”

Ah, aku harus belajar untuk memperhatikan ekspresi orang dengan lebih seksama! Tentu saja Nino sering memandangi Magie, tapi bukan karena suka melainkan beragam perasaan lainnya yang bertolak belakang dengan itu –aneh, bingung, jijik dan tidak habis pikir dan entah apa lagi. Kalau aku jadi Nino pasti juga akan menatap begitu pada Magie. Bagaimana tidak, cewek itu mendatanginya dan berkata “Jauhi Lisa, dia milikku!” begitu tahu Nino putus dari Nadia dan kemudian (pastinya) berusaha mendekatiku –gadis paling populer di kampus setelah Nadia. Magie menceritakan semua itu dengan wajah penuh kemenangan.

Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tapi kemudian aku menangis. Kalah, malu, jijik, hina dan entah perasaan apalagi yang berkumpul di diriku kini…

Setelah sesaat memandangiku dengan tatapan yang membuatku ingin lari sejauh-jauhnya Magie kemudian berujar, “Oh, Lisa, sudah lama aku ingin melakukan ini…”

Aku pingsan setelah ia mengecup bibirku.

***

Cerpen ini dimuat di majalah Cerita Kita edisi April 2006.

KATAKAN DENGAN BUNGA

Telepon genggamku berbunyi,

“Sudah terima?”

Aku melirik sebuket besar mawar putih di hadapanku.

“Yup.” Jawabku datar. Beberapa rekan wanita berhenti tak jauh dari mejaku, menatap bergantian padaku dan benda itu dengan wajah iri mereka.

“Bagaimana?”

“Bagus dan pasti mahal!”

“Aku dapat potongan harga untuk yang ini.”

“Sesudah lima kali dalam seminggu ini mengirimiku? Pesan saja di toko lain bila tidak diberi diskon!” tapi tentu saja itu tidak mungkin dilakukannya.

“Ah bisa saja!” Arman, sahabatku yang sedang naksir gadis pemilik toko bunga di lantai dasar gedung tempatku bekerja, tertawa kegirangan. Memuakkan. “Besok masuk khan? Mau bunga apa?”

“Bunga bangkai!” kututup teleponnya.

***

(cerita dalam 1oo kata)

LOOKING AT YOU


Aku tidak tahu darimana dia datang, tiba-tiba sosoknya sudah ada di hadapanku. Dengan tatapan datar ia memandangiku. Bibirnya hampir membentuk senyuman, tapi bagiku terlihat seperti cengiran sinis, meremehkan.

“Hai!” sapaku dengan nada yang kuatur setenang mungkin.

Ia membalasnya dengan senyuman, kali ini benar-benar sebuah senyum yang menghiasi wajahnya, tapi gantian sorot matanya yang tampak sinis. Atau itu hanya perasaanku saja? Akhir-akhir ini aku memang terlalu lelah dengan semua pekerjaanku ini. Seringkali tidak tidur hingga beberapa hari, orang-orang di sekitar kerap meremehkan dengan berkomentar, “Hanya menggambar seperti itu apa susahnya sih? Kok sampai berhari-hari?”. Bagi mereka memang profesi sebagai desainer grafis tidak jauh dari menggambar saja. Dan aku rasa pria yang sedang berdiri di hadapanku ini termasuk dalam kelompok yang berpikiran seperti itu.

“Sendirian?” tanyanya tanpa mengalihkan sedetik pun pandangannya dariku.

Setidaknya berkediplah, kau membuatku seolah mengkerut!

“Iya, Bram tidak bisa datang.” Aku menyebutkan nama partner kerjaku. Sebenarnya tidak begitu, aku dan Bram memang jarang datang berdua, kami berbagi tugas ketika menemui klien. Tapi pria ini bukanlah calon klien kami, dia kenalan Bram yang sedang berkunjung ke kota ini dan kebetulan menginap di hotel yang letaknya dekat dengan kedai kopi tempat aku menemui salah seorang klien. Adri namanya, kemarin Bram sempat mengenalkannya padaku.

Mungkin si Adri ini sedang berjalan-jalan di sekitar hotel ketika ia melihat dan kemudian menghampiriku, entahlah, ketika aku menyalami Pak Vincent, mengakhiri pertemuan kami, tahu-tahu ia sudah berdiri tepat di belakang klienku itu.

“Duduk, Dri!” aku mempersilakan sambil menunjuk kursi kosong di hadapanku.

Lagi-lagi ia membalas dengan senyuman, untungnya kali ini tatapannya tidak sedatar tadi.

Job baru?”

“Iya, bikin company profile.” Aku menutup laptopku dan memasukkan kembali barang-barang yang berserakan di meja ke dalam tas kerjaku dengan gerakan cepat. Sejenak kuhentikan aktifitasku ketika sadar ia sedang memperhatikan. Pasti disangkanya aku ingin buru-buru pergi. Memang sih, tetapi tidak mungkin meninggalkan dia begitu saja, apalagi setelah aku dengan bodohnya menawarinya untuk duduk.

“Berantakan banget!” aku tersenyum canggung, memamerkan sederetan gigiku.

Ia mengangguk, sesaat tampak menahan senyum.

Kemudian sebuah panggilan telepon menyelamatkanku. Percetakan menelepon memintaku untuk datang, memeriksa hasil proof print salahsatu brosur pesananku. Maka, setelah meminta maaf dan berpamitan aku bergegas pergi.

*

“Eh, Bram, tadi gua ketemu si Adri!” seruku pada Bram yang kebetulan menelepon. Aku sedang dalam perjalanan ke percetakan.

“Oya? Sekarang dia dimana?”

“Masih di Mud River kali, habisnya aku kudu buru-buru cabut ke percetakan, nge-cek proof print brosur..”

“Internusa? Fiuh, akhirnya naik cetak juga!”

“Yup. Dirimu sudah dihubungi sama Pak Thomas kah?” Bram tidak menjawab.

“Bram? Hoi, pulsa mahal, Pak!”

“Ssshhhhh!” dia malah menyuruhku diam. Terdengar volume tivi dibesarkan hingga sedikit bergema. Monyet.

“Von, tadi lu bilang si Adri dimana?” tanyanya dengan suara ditahan.

“Heh? Adri? Di Mud River, tempat tadi gua ketemu klien. Kenapa?”

“Masuk tivi nih, kena bom!”

“Hah?”

*

Kami –aku dan Bram, berjalan secepat mungkin sepanjang lorong hotel Asia Palace, lantai sembilan. Sebelumnya kami janjian bertemu di rumah sakit Sehat Indonesia, tempat para korban bom dirujuk tetapi kemudian Adri menelepon ketika kami baru saja, dalam waktu yang hampir bersamaan, sampai di pelataran parkir rumah sakit.

“Adri!” tiba-tiba Bram mengangkat tangannya dan melambai sambil terus berlari.

Aku yang berlari agak dibelakangnya celingukan berusaha melihat ke depan dari balik punggung Bram. Sosok Adri mulai kelihatan sekilas-sekilas, berdiri di depan pintu kamarnya, tersenyum.

“Nggak papa, Dri?” nafas Bram ngos-ngosan, ia membungkukkan badan dan berpegangan pada kedua lututnya. Hahaha.. orang satu ini memang lebih parah dari aku dalam urusan malas berolahraga.

Aku dapat melihat Adri dengan jelas kini, ia juga sedang menatapku.

“Nggak papa.” Jawabnya singkat.

“Ada yang luka?” Bram kembali menegakkan punggungnya.

“Nggak. Cuma harga diriku aja.” Adri memiringkan kepalanya seolah tak ingin aku menghilang dari area pandangnya. Tatapannya itu… Oke, Adri, kamu sukses bikin jantungku deg-deg-plas tidak karuan dengan caramu menatapku!

“Kamu tadi menjatuhkan ini.” Adri menyodorkan sebuah bolpoin berwarna merah muda. Milikku.

“Ya elah, masih sempat-sempatnya lu-“ Bram mendorong bahu Adri.

“Gara-gara bolpoin ini jatuh aku tadi mengejar Voni, setelah gagal berusaha memanggilnya berkali-kali…“

“Emang budeg sih dia, telinganya sombong!” sela Bram lagi, menyindirku.

“…dan aku sudah berlari sampai ke parkiran ketika bom meledak. Tapi Voni-nya sudah keburu pergi.”

Kami bertiga diam, teringat akan musibah bom barusan. Adri masih terus menatapku, sedangkan Bram, aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa dia melemparkan pandangan bergantian ke arah kami berdua, kebingungan.

Thanks to that pink ballpoint then!” ujar Bram memecah keheningan diantara kami. Adri menoleh padanya sesaat sebelum kembali menatapku lagi. Kini aku sudah mulai terbiasa oleh ‘hobi’-nya itu, bahkan merasa sedikit tersanjung. Dan harus kuakui; kedua matanya itu, bagaimana ia menatapku, mulai mencuri perhatianku.

Thanks to Voni!

“Karena jatuhin bolpen atau karena budeg dipanggil-panggil nggak denger?” celetuk Bram. Kami bertiga tertawa.

*

Aku menoleh, menyapukan pandangan ke sekelilingku. Barusan aku merasa seolah ada seseorang di sekitarku, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa, tidak Pak Vincent ataupun… Adri.

Akhir-akhir ini aku sering merasa ada orang yang sedang mengawasiku ketika aku sedang sendirian; di kafe, di jalan, di perempatan lampu merah, bahkan di kamarku sendiri. Perasaan itu begitu nyata, tetapi ketika aku menoleh memang tidak ada siapa-siapa. Dan entah mengapa aku sering beranggapan bahwa yang mengawasiku adalah Adri. Lucu memang mengapa aku bisa berasumsi begitu padahal dia sudah balik ke London.

Adri sempat mengajakku makan malam tetapi saat itu aku sedang dikejar deadline menyelesaikan alternatif desain company profile, job yang kudapat setelah bertemu klien di Mud River tepat sebelum ada ledakan bom disana. Aku benar-benar sibuk saat itu, untuk sekedar menonton tivi sesaat saja hampir tidak sempat, maka aku terpaksa menolak ajakannya. Mana Bram sedang pergi ke Singapura pula; berusaha melobi sebuah perusahaan biro perjalanan khusus anak muda yang hendak mendesain ulang logo dan corporate identity-nya sekalian melihat pameran desain grafis disana, jadi semua pekerjaan disini harus kuambil alih.

Saat ini aku sedang menunggu kedatangan Pak Vincent untuk menunjukkan tiga alternatif desain company profile yang sudah selesai kubuat. Tumpukan koran tidak jauh dari tempatku duduk menjadi sasaran kebosanan menunggu klienku itu. Banyak hari yang ternyata kulewatkan karena pekerjaan kali ini. Selasa, 16 November, tulisan pada sebuah koran yang sedang kupegang. Hmm… hampir dua minggu yang lalu, tapi sepertinya belum pernah baca…

“Bu Voni?” suara Pak Vincent yang sedang melambai-lambaikan tangannya di hadapanku membuat aku agak terkesiap. Tampaknya ia sudah muncul agak tadi.

“Wah, sedang baca apa, Bu? Kok sampai tegang begitu?”

“Oh, enggak, hanya koran lama.” Aku buru-buru meletakkan koran yang kupegang.

Beberapa menit setelah selesai menemui Pak Vincent, telepon genggamku berbunyi. Telepon dari Adri, ia mengajak bertemu.

*

“Senang sekali akhirnya bisa melihatmu lagi!” ada nada kerinduan pada ucapan Adri.

“Benarkah?” tanyaku menggoda. Tapi aku tahu dia tidak sedang berbasa-basi, air mukanya menunjukkan benar kebahagiaan itu dan ia tampaknya sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya. Aku tersenyum geli.

“Kok kamu nyantai aja waktu aku ajak ketemuan?” Adri menatapku heran. “Memangnya kenapa?” aku menoleh ke sekeliling kami, lobi hotel Asian Palace ini begitu temaram, aku sedikit mengantuk karenanya.

“Nggak pa-pa sih, tapi khan kamu tahunya aku sudah balik ke London...”

“Enggak kok, aku tahu kamu masih disini.”

“Oh ya?” kedua bola matanya bergerak-gerak penuh selidik. Aku suka melihatnya penasaran seperti itu. Kuseruput Mocca Latté pesananku yang dari tadi belum tersentuh sebelum membuka mulut, menjawab rasa penasaran Adri.

“Yah, awalnya hanya perasaanku saja sih, tapi tadi siang aku mendapati bahwa perasaanku ternyata tidak salah… dan aku juga baru tahu bahwa…” Aku merogoh tas kerjaku kemudian melempar perlahan koran yang tadi kubawa dari tempatku menunggu Pak Vincent ke atas meja, “…ledakan di Mud River dua minggu lalu terjadi di parkirannya.” Kusandarkan punggungku dengan sangat tenang.

Kami kembali diam, saling bertatapan.

***

cerpen ini dimuat di majalah Chic edisi no. XXX-2006.

ENOUGH!

Ow wowow, I’m so happy. Guess what?!

Sepucuk kertas berbentuk bujursangkar berwarna merah muda berpindah tempat dari hadapan Nadine ke atas buku tulis Fika.

What?

Fika mengembalikan kertas itu setelah menulisinya.

Cowo’ keren yang pakai polo-shirt hitam, yang aku ceritain beberapa hari yang lalu, aku dapat nomor teleponnya!! Namanya Andrew, keren ya?!

Kertas kembali lagi ke Fika, dan dibaca dengan hati-hati, takut ketahuan. Sekilas, diliriknya Nadine yang ternyata tengah penuh senyum.

Lumayan. Seneng dong kamu?! Oh.. pertanyaan bodoh.. Nad, plis deh, kalo senyum jangan lebar-lebar dong, dilihatin pak Bara tuh!

Senyum Nadine malah makin lebar ketika surat itu dioperkan kembali kepadanya.

Bodo’! Seneng banget nih! Aku sampai sudah hafal nomor teleponnya: 8413364

Nadine menghiasi sekeliling tulisan nomor telepon itu dengan gambar bunga-bunga, seperti suasana hatinya saat itu.

*

Sepanjang pelajaran Sejarah, isi pembicaraan Nadine melulu seputar Andrew, Andrew dan Andrew. Beberapa kali teguran dari Bu Sani tidak membuatnya jera, karena cerita tentang Andrew yang baru diteleponnya dua kali tapi seperti sudah kenal lama jauh lebih penting untuk diceritakannya pada Fika.

“Menurut kamu bagaimana?” entah sudah keberapa kalinya pertanyaan itu dilontarkan Nadine, yang kemudian dijawab Fika dengan helaan nafas panjang sebelum kemudian berkata pendek: “Bagus deh.”

“Apa-apa nggak sih kalau aku ngajak dia ketemuan?”

“Ya nggak ada salahnya lah…”

“Enaknya kemana ya?”

“Ya mau kemana lagi, paling-paling acara jalan-jalan standar: makan, nonton bioskop, gitu-gitu aja khan?!”

“Iya sih-” Diam sejenak tapi kemudian wajahnya tampak kembali cerah. “…oh, aku ajak dia lihat pameran desain grafis aja, siapa tahu dia suka! Iya ah, pulang sekolah nanti aku hubungi dia!” serunya bersemangat.

“Ngg, mending ke tempat lain aja deh, Nad…”

“Kenapa gitu?”

“Aku udah duluan ngajak dia lihat pameran itu.”

“Hah?” Nadine mengerutkan keningnya. Tapi kemudian dia tertawa sambil mendorong ringan bahu Fika. “Bisa aja kamu!”

“Beneran!” Fika tidak ikut tertawa. Nadine kemudian terdiam, menatap mata teman sebangkunya itu.

“Ini kita ngomongin Andrew-ku khan? Cowok yang pake polo-shirt hitam waktu itu dan ternyata kenal dengan kakakku?” ditekankannya kata Andrew-ku.

Fika mengangguk mengiyakan.

“Lho, kok.. kok kamu bisa kenal dia juga?”

“Ngg..” Fika setengah menahan nafas, “Waktu kita surat-suratan khan kamu pernah nulis nomor teleponnya…” ia menggantung ucapannya, menanti reaksi Nadine. Temannya itu menganggukkan kepalanya sekali, meminta Fika meneruskan ucapannya.

“Sorenya aku nelfon dia, ngajakin kenalan.”

Deghhhh!

Mata Nadine agak terbelalak, dahinya berkerut, ia berusaha mencerna kata-kata yang barusan didengarnya.

“Nggak apa-apa khan?” Fika memegang tangan Nadine dengan hati-hati setelah jengah melihatnya masih saja terdiam.

“Hmm? Ya nggak apa-apa sih, toh Andrew bukan siapa-siapaku.” Jawab Nadine, agak terkesiap ketika Fika menyentuh tangannya. Dikerjapkan matanya beberapa kali dengan cepat, masih setengah tidak percaya.

“Sori ya aku nggak bilang kamu dulu, waktu lagi ngatur buku tiba-tiba aku melihat kertas surat-suratan itu trus iseng aja pengen telpon. Ternyata anaknya asyik ya?!”

“I-iya, Andrew memang asyik anaknya.”

“Rencananya malam Minggu ini kita ketemuan di gedung kebudayaan Perancis, lihat pameran desain grafis disana.” Seru Fika gembira.

“Sejak kapan kamu tertarik sama pameran desain grafis? Waktu itu ngajakin kesitu kamunya nggak mau!” protes Nadine.

“Hihihi, iya sih. Habis, waktu ngobrol-ngobrol dia bilang tertarik sama desain grafis, aku jadi ingat kamu pernah bilang ada pameran desain grafis, ya udah, aku ajakin aja dia ketemuan disana. Eh ternyata dia langsung mau, semangat banget!” kata-kata itu mengalir ringan dari mulut Fika.

Nadine menatap temannya dengan beribu pikiran berkecamuk di kepalanya, tapi ujung-ujungnya bertanya dalam hati, “Kok bisa sih?”

*

“Segitunya sih, Nad!” nada suara Fika terdengar sangat kesal. Nadine yang sedang membereskan peralatan tulisnya menoleh dengan wajah bingung. Baru saja kertas ulangan Sejarah dikumpulkan setelah diadakan tes dadakan.

“Dari tadi aku nanya jawaban nomer tiga dan empat tapi kamu nggak mau kasih tahu, noleh pun enggak!”

“Aku juga nggak yakin sama jawabanku, Fi, nanti kalau aku kasih tahu dan ternyata salah khan ketahuan!”

“Ah, alasan! Kenapa sih? Gara-gara aku menelepon dan ngajak pergi Andrew? Iya? Masa gitu aja udah sewot? Toh aku cuma iseng dan kamu tahu itu! Lagian dia bukan siapa-siapanya kamu khan?!”

Mata Nadine melotot semakin besar seiring dengan kalimat demi kalimat yang dilontarkan Fika.

“Kok jadi bawa-bawa Andrew?! Udah aku bilang, aku nggak-“

“Udah deh, Nad! Nggak usah munafik! Kalau mau ambil aja deh! Norak banget ngeributin masalah sepele seperti ini!”

“Ambil aja?” Nadine jadi naik pitam, “Emangnya barang? Lagian, Andrew itu siapa, kok ditawar-tawarin kayak gitu?”

“Bukan siapa-siapaku sih…”

“Nah!” tepat saat itu bel istirahat berbunyi. Nadine langsung beranjak dari bangkunya dengan kesal dan pergi meninggalkan Fika yang masih memasang wajah masam.

*

Yang tadi, sori ya…

Damai?

Nadine membaca potongan kertas berwarna hijau pupus, surat dari Fika, dan menoleh ke teman sebangkunya itu. Fika sibuk menyalin catatan, melihat bergantian ke papan tulis dan buku catatannya. Nadine tersenyum geli. Ia tahu Fika hanya pura-pura sibuk. Ditulisinya kertas hijau pupus itu, kemudian dengan gerakan cepat menggesernya ke area meja Fika.

OK!

Fika menoleh setelah membacanya, mereka saling melempar senyum.

*

Bel pulang baru saja berbunyi.

“Aku ikut ke rumahmu aja deh, khan tugas kelompoknya dikumpulkan besok.” Fika berjalan agak cepat, berusaha menjajari Nadine yang tampak tergesa-gesa.

Nadine menoleh, “Oke. Tapi aku mau ke wartel sebentar.”

“Pak Sus nggak bisa jemput?”

“Enggak, bukan menelepon orang rumah kok…”

Berdua mereka menyeberang jalan, menuju wartel di depan sekolah.

Nadine cekatan memencet serentetan nomor yang segera tampak pada tampilan kotak penghitung durasi pulsa telepon.

“Siapa sih?” tanya Fika sambil berusaha menutup pintu, bilik untuk menelepon itu terasa sempit dimasuki mereka berdua.

“Ssshhh..” Nadine menaik-turunkan tangannya di udara, memberi tanda agar Fika tenang, padahal dia sendiri yang sebenarnya tak tenang.

“Kenapa nggak telpon dari rumah aja?”

“Males ah, nanti digangguin kalau ada yang denger, kayak waktu nelpon si Andrew… Ha-hallo? Bisa bicara dengan Erwin?” Nadine jadi gelagapan karena ternyata sudah tersambung. Kemudian Nadine menoleh pada Fika, nyengir.

“Bisa bicara dengan Erwin?” Fika menirukan kata-kata Nadine sebelum kemudian meringis kesakitan karena cubitan temannya itu.

*

Ketika pelajaran Bu Sani, mereka kembali main surat-suratan. Fika yang memulai dengan mengoperkan selembar kertas bujursangkar kepada Nadine.

Nad.. Sori ya..

Kenapa Fik?

Sori banget aku udah lancang lagi.

Lancang?

Iya. Kemarin aku telpon Erwin.

Hah? Erwin-ku?

Iya.

Kok tahu nomornya? Perasaan aku nggak pernah nulisin nomor Erwin sewaktu kita lagi surat-suratan deh..

Emang enggak pernah. Tapi waktu kamu telpon dia di wartel kemarin nomornya kelihatan.. Sampai di rumah aku masih hafal jadi ya iseng-iseng aku telepon dia. Sori... Beneran gak maksud apa-apa kok! Sori...

Kali itu Nadine memilih untuk tidak memaafkan Fika. Ia juga memutuskan untuk meminta ijin Bu Sani yang adalah wali kelas mereka untuk pindah tempat duduk, jauh dari Fika.

---o0(^o^)0o—


cerpen ini dimuat di majalah GoGirl! edisi ulangtahun Februari 2006

Mbak yang Tinggal di Rumah Pojok

Boni mengucapkannya setengah berbisik, sambil menunjuk ke sebuah rumah paling pojok dari deretan rumah-rumah yang berhadapan dengan rumahku. Mulutku menganga lebar. Mungkin aku semestinya lebih mengatur ekspresiku agar tidak terlalu kentara, tetapi aku memang benar-benar terkejut – tidak menyangka sama sekali itu yang akan dikatakannya. Pupus sudah semua angan dan mimpiku. Tega nian si Boni ini, bikin aku berharap banyak selama ini lalu sekarang berkata bahwa dia jatuh cinta dengan Mbak yang tinggal rumah pojokan itu!

Saat itu Boni sedang main ke rumahku, kebiasaan baru yang makin sering dilakukannya akhir-akhir ini. Karena penasaran akan hobi barunya itulah aku kemudian menanyakan, dengan setengah menggoda tentu saja, mengapa ia jadi rajin berkunjung. Bukannya aku merasa terganggu dengan kehadirannya, tidak sama sekali. Aku suka pada Boni. Cowok itu sudah mencuri perhatianku sejak pertama kali aku melihatnya di lapangan sekolah. Ketika itu aku masuk ke dalam barisan yang salah saat mengikuti upacara sebagai siswa baru dan Boni yang melihatku panik memberitahu bahwa barisan yang kumasuki itu adalah barisan kelas I-E, kelasnya. Di hari-hari selanjutnya, wajah Boni yang sedang berkata ‘Oh, kamu salah barisan, ini kelas satu E!’ kerap memenuhi kepalaku. Tapi karena saat itu aku belum tahu namanya, aku menciptakan nama julukan untuknya.

“Si Tampan!” Kukira aku menyebutkannya dalam hati saja, tetapi melihat bahwa segerombolan cowok yang ada di hadapanku kemudian tertawa terbahak-bahak sepertinya suara hatiku terlampau keras. Boni yang sedang kutatap tampak berusaha menahan tawa.

“Terima kasih!” serunya dengan nada geli. Ya ampun malunya diriku!! Aku begitu kaget dan tidak menyangka akan berpapasan dengannya di depan kantin dan ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirku.

“Namaku Boni!” ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“K-Kania!” disambut tepuk tangan dan sorak-sorai orang-orang di sekitar kami. Malu kuadrat – tapi senang bukan kepalang tentunya, bisa berkenalan dengannya. Apalagi setelah saat itu kami menjadi akrab. Bahkan, walau sebenarnya tidak – ehm, belum ada apa-apa diantara kami, teman-teman menganggap kami berpacaran. Dan keadaanya terus begitu hingga kini menjelang UAN di kelas tiga.

*

Aku berdiri di depan rumah nomor 17 dengan berbagai pikiran mengumpul memenuhi benakku. Ini rumah Mbak itu. Mbak yang ditaksir oleh Boni, yang kebetulan adalah cowok yang kutaksir. Jalanan lengang yang terang tersiram matahari siang tampak kontras dengan keadaan rumahnya yang seakan ditelan pepohonan yang tumbuh tak terkendali di halaman. Sepertinya dia belum sempat merapikan tanaman-tanaman itu sejak kepindahannya kemari. Aku dalam perjalanan ke rumah sepulang sekolah. Tidak biasanya dimana akhir-akhir ini Boni selalu menemani, kali ini aku jalan sendirian, mengemban misi dari Boni.

Cinta oh cinta. Terang-terangan kecewa karena perkataan Boni, aku sendiri heran mengapa masih kuiyakan ketika Boni memohon dengan amat sangat untukku mencari tahu tentang Mbak gebetannya itu. Aku tidak tahu apa-apa tentang mbak itu, tidak namanya sekalipun. Dia baru beberapa bulan yang lalu pindah kemari dan tampaknya belum bersosialisasi dengan para tetangga – setidaknya begitu menurut pembantuku.

“Orang-orang di sini sudah mulai ngomongin tentang Mbak itu, Non! Jarang di rumah sih, kalau pulang seringnya malam atau subuh-subuh gitu!”

“Namanya siapa, Yem?”

“Nggak tahu tuh, orangnya nggak pernah keluar rumah untuk ngobrol-ngobrol sama tetangga!”

“Pembantunya?”

“Nggak ada. Dia tinggal sendiri.”

“Non-non!” Yem memanggil kembali ketika melihatku hendak pergi. Kunaikkan daguku, menanyakan ada apa.

“Dengar-dengar dia itu cewek nggak bener lho! Simpanannya Pak Bono yang tinggal di rumah nomor 34!” bisik Yem. Hmm, mulai deh.

“Halah!” aku ngeloyor pergi meninggalkan Yem yang masih berusaha memanggil-manggilku.

Aku sudah hampir melangkah pergi setelah putus asa memikirkan bagaimana cara aku bisa mencari informasi tentang wanita yang tinggal di rumah nomor 17 ini ketika tiba-tiba terdengar suara anjing kecil menyalak ribut. Kemudian senyap sesaat. Kemudian berganti dengan suara panik seorang wanita. Lalu kurasa ada sesuatu di kakiku. Ketika aku melihat ke bawah, sesuatu itu ternyata seekor anjing kecil dengan mulutnya yang ditancapkan ke bagian belakang sepatuku. Apakah maksudnya menggigit?

“Mocca, ayo lepas!” aku menoleh ke arah suara berasal yang ternyata adalah suara Mbak yang ditaksir Boni – atau bukan, pokoknya dia muncul dari rumah nomor 17. Ia berlari menghampiri pintu pagar, membukanya slotnya, mendorong pintunya begitu saja dan melesat ke arahku dengan wajah panik sambil terus memanggil anjingnya. Aku seperti melihat adegan lambat saja, walau nyatanya itu berlangsung begitu cepat. Begitu ia sudah berada tepat di hadapanku untuk beberapa saat kami sempat saling berpandangan. Cantik! Pantas saja Boni kleper-kleper melihatnya. Kami sama-sama melihat ke bawah, ke kaki kiriku. Anjing itu masih dalam posisi yang sama, masih mengaitkan giginya ke bagian belakang sepatuku, balik menatap kami – sesekali mengedipkan matanya. Seketika meledaklah tawa kami.

“Mocca, kamu nakal sekali!” diraihnya si anjing kecil yang langsung melepaskan gigitannya.

“berbekas ya? Aduh, maaf! Ya ampun, gimana kalo aku ganti sepatunya?” wanita itu kembali panik. Kulirik sesaat sepatuku – terlihat samar bekas gigi-gigi kecil di situ.

“Eh, nggak usah Mbak!” aku buru-buru menenangkannnya.

“Sakit ya waktu digigit?” tanyanya, masih kuatir.

“Nggak terasa!” aku tersenyum. Dan memang tidak terasa sama sekali. Ia tertawa, tampak lega.

Namanya Rosa. Usianya 23 tahun. Mengaku sebagai pengacara – pengangguran banyak acara, ia tinggal di rumah nomor 17 itu hanya bertemankan Mocca, anjingnya. Sempat kulihat tumpukan beberapa naskah cerita berserakan di sebuah meja yang tampaknya adalah meja kerjanya. Laptop, dua cangkir bekas kopi, MP3 player, beberapa gumpal kertas salah ketik, telepon genggam keluaran terbaru. Hmm, sebagai pengacara dia cukup berada. Ataukah benar dia simpanan orang, seperti kata Yem?

“Penulis?” tanyaku sambil mengangkat salahsatu naskahnya.

“Mungkin.” Dia nyengir. “Belum bisa dikatakan sebagai pekerjaan, baru sekedar hobi yang masih harus banyak diasah.”

“Kuliah?”

“Sudah lulus.”

“Fakultas Hukum?” kami tertawa berbarengan.

“Enggak, Ilmu Komunikasi.”

*

“Trus-trus?”

“Nabrak!” kudorong dahi Boni dengan gemas. Dia sedang menginterogasiku berkenaan dengan misi yang sedang kutangani saat ini, menyelidiki Mbak yang tinggal di rumah nomor 17. Mbak Rosa itu.

“Adu-uh, serius! Namanya Rosa, umur 23-“

“Iya, 23, nggak ketuaan tuh, Bon?” potongku dengan wajah penasaran.

“Ckk!” Boni berdecak, kesal perkataannya kupotong. “Lulus Ilkom, hobi nulis, anjingnya yang kecil lucu-“ lanjutnya, tidak mempedulikan wajahku yang tampak tidak terima.

“Bukan anjing tapi hiu!” potongku lagi.

“Iya, hiunya yang kecil lucu namanya Mocca.. Trus?” Boni mengulang informasi yang barusan kuberikan.

“Nabrak!” aku hendak mendorong dahinya lagi tapi Boni sudah lebih dulu menangkap tanganku. Seerrh – ada yang berdesir di dalam diriku.

“Niaaa! Yang bener dong!” suaranya membuatku agak gelagapan. Kuleletkan lidahku.

“Nia, please!!” didekapnya tanganku di dadanya. Omigot, help! Kania meleleh! Kania meleleh! Kutatap wajahnya yang penuh harap. Matanya manis sekali.

“Ya ampun Bonii! Aku memang cuma tahu itu aja, beneran!”

Please..” dia masih memohon. Memohonlah pada pohon, Boni! Nggak percaya banget sih!

“Plis-plis cuplis?!” seruku kesal. Wajah Boni tampak kaget ketika aku menarik tanganku.

“Aduh, sori-sori! Iya deh, makasih infonya ya!” ucapnya buru-buru begitu sadar aku sudah mulai kesal. Aku jadi tidak enak.

“Gini deh, pulang sekolah kamu ikut ke rumahku aja, ntar aku kenalin sama Mbak Rosa!” Apa perkataan barusan benar-benar kuucapkan? Kalau melihat dari mata Boni yang kini berbinar-binar berlebihan sih sepertinya iya. Ah, sudahlah, toh aku sudah tahu Mbak Rosa, yang pasti Boni bukan seleranya. Siapa tahu setelah ini aku dan Boni malah jadi makin dekat.

*

Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar, sibuk menggerutu sepanjang perjalanan kaki dari perhentian bus menuju rumahku. Wajar kurasa, mengingat matahari memang sedang terik-teriknya siang itu. Yang tidak wajar justru cowok disampingku yang tidak bisa tenang, sesekali melompat kegirangan sambil mendendangkan lagu cinta yang tidak jelas syairnya berulang-ulang di tengah suasana gerah dan penuh debu seperti ini. Kulirik Boni yang sedari tadi tersenyum-senyum.

Deretan rumahku sudah terlihat. Juga rumah Mbak Rosa yang tersamarkan oleh pohon-pohon yang kelewat rimbun itu. Tetapi tidak seperti biasanya, di sekitar rumahnya tampak ramai sekali. Ketika kulihat ada mobil polisi dan ambulans di sana, aku segera tahu ada yang tidak beres. Sesuatu menimpa Mbak Rosa! Kutarik lengan baju Boni dan bersamanya berlari menghampiri rumah no 17 itu.

Semakin dekat makin terlihat wajah-wajah tegang orang-orang yang ada di situ.

“Mbak Rosa!” seruku dengan kalut ketika kulihat dua orang petugas medis keluar dari dalam rumah, mendorong kereta dengan seseorang yang berbaring diam di atasnya.

Ketika kulongokkan kepala yang tampak adalah seorang lelaki berusia 40-an yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

“Bono Wiloto. Sindikat pembuat dan pengedar uang palsu.” Suara Mbak Rosa terdengar dari belakangku. Aku menoleh.

“Hai, Kania!” wanita itu berdiri di hadapanku – tersenyum lebar, diangkatnya lencana yang berada di tangan kanannya.

Masih sulit kupercaya Mbak Rosa ternyata seorang polisi yang sedang dalam penyamaran. Tidak kupedulikan Boni yang sedari sibuk menyikuti pinggangku. Mbak yang tinggal di rumah pojok ini ternyata – wow!

---o0(^o^)0o---

Cerpen ini dimuat di majalah KawanKu no.15/XXXIV 4-10 Oktober 2004